Monday, 27 January 2014

Catatan Penerjemah Science of Getting Rich (Ilmu Menjadi Kaya) Oleh A.S Laksana

Ilmu Menjadi Kaya

A.S. Laksana

Sejauh ini saya agak kuper mengenai buku-buku yang membahas soal law of attraction (LoA) dan bagaimana mendatangkan keberlimpahan dengan cara memvisualisasikan apa yang diinginkan. Beberapa teman saya pebisnis multi level marketing pernah datang ke rumah saya dan melakukan presentasi demi menarik saya ke dalam barisan mereka, dan mereka memperkenalkan buku Berpikir dan Berjiwa Besar. Karena tak bisa menolak presentasi teman-teman, sekarang ini saya memiliki dua eksemplar buku tersebut dan belum pernah membacanya sama sekali. Itu kesalahan saya sendiri.

Beberapa hari lalu, tetap dengan pengetahuan minimum tentang LoA, saya menuliskan frase “science of getting rich” di mesin pencari internet. Pikir saya, jangan-jangan ada juga orang Barat yang sudah menulis metode ilmiah tentang cara menjadi kaya. Saya punya kecurigaan bahwa mereka gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja, dan kemudian menuliskan apa saja menjadi buku. Dan ternyata memang ada buku ilmu pengetahuan tentang menjadi kaya. Judulnya The Science of Getting Rich. Buku ini terbit pada 1910, ditulis oleh Wallace D. Wattles.

Tahun penerbitan buku itu membuat saya melongo. Jadi, ketika para proklamator kita masih bocah ingusan, di Amerika Serikat orang sudah  memikirkan ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara menjadi kaya dan menuliskannya sebagai sebuah sains. Dengan suara yang jernih dan penuh keyakinan, Wallace menyampaikan, “Ada ilmu menjadi kaya, dan itu ilmu eksakta, seperti aljabar dan aritmetika. Ada hukum-hukum tertentu yang mengatur proses mendapatkan kekayaan, dan barangsiapa mempelajari dan mengikuti hukum-hukum ini, ia akan menjadi kaya dengan kepastian yang matematis.”

Saya segera terpukau. Jika demikian halnya, buku ini sangat penting bagi teman-teman saya para penulis, yang sebagian dari mereka adalah orang-orang yang sering kesulitan uang dan kesulitan berkarya. Beberapa orang bahkan kesulitan membeli buku, barang yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan untuk menopang proses kreatif mereka. Tentu saja ilmu ini wajib dipelajari juga oleh semua orang. Ia akan menjadi ilmu yang berguna untuk mengurangi kasus penganiayaan pembantu rumah tangga kita di luar negeri.

Dalam menyampaikan sains menjadi kaya ini, Wallace enteng sekali menyodorkan pendapat-pendapatnya. Ia bilang bahwa manusia terdiri atas tubuh, pikiran, dan jiwa. Untuk menjalani hidup yang sebaik-baiknya, anda harus mempersembahkan hal yang baik kepada tubuh anda, kepada pikiran anda, dan kepada jiwa anda. Anda akan menjalani hidup yang baik ketika anda sanggup memberikan pakaian dan asupan yang baik bagi tubuh anda; sanggup memberikan buku-buku dan pengetahuan terbaik kepada pikiran anda; sanggup memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang anda cintai. Untuk itu, setiap orang harus kaya dan harus tahu cara pasti untuk menjadi kaya.

Dan, menurutnya, Anda hanya perlu menjadi kaya dalam cara yang kreatif, bukan kompetitif. Anda tak perlu menjadi kaya dengan mengalahkan siapa pun. Anda hanya perlu memulai “penciptaan” dari pikiran Anda. Itu sumber utama Anda untuk mewujudkan segala sesuatu, termasuk mewujudkan kekayaan.

Saya membaca dan setuju-setuju saja. Ia menyampaikan kalimat-kalimatnya dalam cara yang jernih dan provokatif. Lalu saya menambahi sendiri: Benar, Bung! Segala sesuatu, mulai dari jarum pentul sampai pesawat ruang angkasa, menjadi ada mula-mula karena orang memikirkannya. Demikian pula jamu galian singset. Selanjutnya, muncul dalam benak saya sebuah adegan, semacam sinetron yang wagu. Anda sangat mencintai anak anda, dan anda mengatakan kepadanya, “Aku sangat mencintaimu, Nak, tapi jangan pernah minta apa pun kepadaku, ya.... Aku tidak akan sanggup memberikan apa pun yang kaubutuhkan karena aku tidak pernah punya cukup uang.”

Itu saya kira ekspresi cinta yang konyol. Dan Wallace tidak pernah menyediakan tempat dalam dirinya untuk memikirkan kemiskinan. Baginya, sebagaimana ia tulis dalam bukunya yang lain How to be A Genius (atau The Science of Beeing Great), kebahagiaan terbesar manusia adalah ketika ia bisa memberikan hal terbaik kepada orang-orang yang ia cintai.

Salah satu sarannya, yang berkaitan dengan kemiskinan, bahkan terdengar sangat mengejutkan. Katanya, “Jangan peduli pada kegiatan-kegiatan amal. Orang miskin tidak butuh amal. Kegiatan amal hanya meringankan penderitaan dalam satu dua hari. Sebuah hiburan hanya akan memberi kesenangan dalam satu dua jam. Orang miskin membutuhkan inspirasi. Beri mereka inspirasi, dan itu adalah pemberian yang akan bertahan seumur hidup.”

Dalam soal inspirasi, saya kira Wallace sudah membuktikan dirinya. Ia bertahun-tahun hidup melarat dan kehilangan posisinya yang baik di gereja Metodis karena dianggap bidah. Menurut penuturan anaknya, suatu pagi menjelang natal, uang terakhir yang ada pada istrinya sudah habis untuk membeli pohon natal. Wallace pulang saat itu. Dengan senyum mengembang di depan pohon natal itu ia mengatakan bahwa sekarang adalah saatnya mewujudkan kemakmuran.

Begitulah, ia lalu memulai dari pikirannya. Ia melihat dirinya sebagai penulis yang berhasil, sebagai orang kaya, dan sebagai orang yang memberi inspirasi kepada orang banyak. Dengan cara itu ia membangun
dirinya sendiri dalam benak. Dan ia berhasil.

Ia bisa mengatasi kemiskinannya dan hidup sebagai orang berkecukupan, ia menjadi penulis yang memberikan inspirasi kepada penulis-penulis sesudahnya. Jejaknya dalam penulisan buku-buku pemberdayaan diri bisa anda jumpai pada karya-karya Napoleon Hill, Robert Schuller, Anthony Robbins, dan Rhonda Byrne. Rhonda, yang melahirkan The Secret dan memopulerkan istilah law of attraction, adalah orang yang sedang bangkrut ketika suatu hari anaknya memberikan hadiah ulang tahun kepadanya buku The Science of Getting Rich. Tampaknya sains tentang menjadi kaya yang dirumuskan oleh Wattles benar-benar bekerja dalam kasus Byrne. Ia kemudian sukses dengan The Secret-nya, yang tidak lain adalah penulisan ulang buku Wallace.

Jadi, mulailah dari pikiran. Itu perangkat utama anda dalam “penciptaan”. Jadilah kaya lebih dulu, kata Wallace, bicara filosofis nanti setelah beres urusan. Seperti apa pun situasi anda sekarang, lihatlah diri Anda melampaui apa yang tampak di permukaan. Di sinilah orang perlu kekuatan, sebab biasanya sangat sulit bertindak rileks ketika anda di dasar kemiskinan.

--------------------

*) Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam rubrik Ruang Putih, Jawa Pos Minggu.




1 comment: